Tak ada
yang salah dengan menyebut nama Tuhan. Begitu mungkin kalimat yang dapat
kupakai untuk mengawali tulisan ini. Tulisan yang hanya berasal dari
pemikiranku, dari sebuah percakapan sederhana antara aku dengan seorang temanku
yang adalah guru Agama. Sungguh wajar bila manusia menyebut nama Tuhan,
terlebih bila mereka sedang terkena masalah, musibah, atau bahkan mereka sedang
kesakitan. “OhTuhaaaan… tolong angkat semua penyakitku” begitu mungkin kalimat
yang tanpa sadar sering kali kita ucapkan, bila mengalami sakit maupun luka
yang parah.
****
Orang
bilang, hidup sebagai anak bungsu itu menyenangkan. Segala keinginan pasti
terpenuhi. Bisa minta macam-macam. Intinya, jadi anak bungsu itu enak karena
paling dimanjakan orang tua. Tapi berbeda denganku. Namaku Ragil. Sesuai dengan
namaku, aku terakhir dilahirkan di tengah-tengah keluarga ini. Selisih usiaku
jauh berbeda dengan kakak-kakakku, saat aku masih usia remaja, mereka sudah
menikah. Kakakku yang pertama, Dumaji namanya. Dia menikah dengan gadis
keturunan Arab, lalu tinggal di Sumatra. Sudah lama ia tak berkomunikasi lagi
dengan keluarga ini. Berbeda dengan kakakku yang ke-dua, Fatimah, dia berkarir
dan menikah dengan orang Kalimantan. Masih sering kirim surat dan uang untuk
orang tuaku, tapi tidak banyak jumlahnya. Kakakku yang ke-tiga, Kusmanto, bercerai
dengan istrinya lalu masuk penjara. Awalnya dia merantau ke Jakarta, ingin
mengadu nasib katanya. Tapi entah apa yang dilakukannya, kata orang mencuri di
toko emas, lalu sekarang bui menjadi rumahnya. Hatiku sedih. Semakin hari bapak
ibuku makin tua. Aku ingin membuat mereka tersenyum walau sesekali saja.
Pada
suatu sore, matahari kuning hendak tenggelam di balik bukit yang dapat kulihat
dari kampungku. Aku duduk dengan Sundari, kawanku yang adalah seorang guru
Agama. Sundari menatap matahari itu. Kulihat senyum tipis menyungging di
wajahnya. Entah apa yang sedang dipikirkan Sundari, barangkali ia sedang sibuk
berlayar dengan lamunannya tentang Mas Solikin, orang yang berjanji akan menikahinya.
Mas Solikin saat ini sedang merantau ke Taiwan, jadi TKI. Dia berjanji tahun
depan akan pulang, dengan uang yang banyak lalu menikahi Sundari. Dengan setia
temanku ini selalu menantikannya. “Kamu lagi ngelamunin Masmu?” tanyaku pada
Sundari. Sundari menggeleng, lalu mengambil nafas panjang, bibirnya masih
tersenyum. “Aku ndak ngelamunin Mas Solikin.. aku lagi mikirin hidup, Gil…”
katanya lirih. Aku mengerutkan dahi, mengalihkan pandangan matahari yang mulai
jingga. “Apa lagi ini? Kamu mau menasehati aku lagi soal hidup? Mentang-mentang
guru agama…” kataku sambil terkekeh. Sundari juga ikut terkekeh. “Yaweslah, pulang yuk!” katanya sambil
berdiri. Aku ikut berdiri, mengibaskan bagian belakang celanaku yang kotor
terkena debu tanah. Lalu beranjak menuju sepeda kami yang terparkir di bawah
pohon.
Sundari
adalah kawan baikku di kampung ini. Aku mengenalnya sejak SD. Persahabatan kami
terjalin istimewa, dari dulu sampai sekarang. Usia persahabatan kami sama
persis dengan sepeda tua yang sedang kukayuh ini, sama persis kala itu pertama
kali aku memboncengnya. Saat itu kami sama-sama terlambat masuk sekolah. Semalaman
kami asyik dengan tontonan wayang di balai desa. Akibatnya, kami bangun
terlambat. Pagi itu aku ada ide meminjam sepeda bapak, supaya sampai ke sekolah
lebih cepat. Saat dalam perjalanan, kulihat Sundari berlarian, aku menawarkan
tumpangan kepadanya. Sejak itulah kami akrab berteman. Dan sejak itu pula aku
selalu memakai sepeda tua milik Bapak.
Sundari
seorang yang kalem. Maklum, dia guru agama. Meski sama-sama perempuan,
diam-diam aku selalu mengaguminya. Apalagi pengetahuannya tentang agama, wah sungguh luar biasa. Sebetulnya, di
antara kami ini ada banyak persamaan. Kami sama-sama kerja di sekolah,
sama-sama cinta pendidikan. Sundari seorang guru, dan aku tukang bersih-bersih.
Memang, lagi-lagi pendidikan lah yang membuat kami menjalani karir yang
berbeda. Sundari punya keluarga yang selalu mendukungnya untuk belajar dan
mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Cita-citanya menjadi guru, akhirnya
Pak Jaluadi seorang kepala sekolah di kampungku menawarkan dia menjadi guru
agama. Tak hanya itu, dia mendapat bantuan beasiswa dari pemerintah daerah,
untuk melanjutkan pendidikan sarjana PGSD di salah satu universitas negeri di
kota. Berbeda denganku, jangankan sekolah, untuk beli seragam dan buku saja
keluargaku tak mampu. Jadilah sekarang aku di sini, setiap pagi menyapu halaman
dan membersihkan sekolah menjadi pekerjaan sehari-hariku.
Sesekali
aku melihat anak-anak SD di sekolah itu sedang belajar bersama Sundari di
kelasnya. Diam-diam aku mengintip di balik jendela. Ikut mengikuti pelajaran. Tapi
kalau Sundari melihatku, maka cepat-cepat aku mengalihkan pandang, pura-pura
sibuk menyapu atau menyelesaikan pekerjaan.
Bersambung……………………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar