Rabu, 13 Mei 2015

SENGGIGI, JANGAN MENANGIS LAGI

(Sebuah cerita yang pernah dimuat untuk ajang lomba di Tiket.com)

SUNSET DI SENGGIGI, JANGAN MENANGIS LAGI

            Aku memandangi jam di tanganku. Ini sudah ketiga kalinya aku melihat jarumnya yang terus bergerak, dan kini menunjukkan pukul 08.00 tepat. Namun belum juga kulihat kedatangan Ayu, sahabatku. Sesekali aku menengok pula pada layar ponsel di tangan kananku, tak ada tanda-tanda telepon maupun SMS. Gerimis pagi menambah hawa dingin yang menembus jaket tebalku. Kumasukkan kedua tanganku dalam saku jaket, seraya menoleh ke kanan dan kiri. Hanya ada lalu lalang pengunjung terminal dengan tas ransel dan koper masing-masing.
            Kemarin kami sudah sepakat bertemu di bangku ini. Sebuah bangku panjang di depan Terminal Arjosari di kota Malang. Janji pukul 08.00 tepat sudah berada di sini, sebab bus kami akan berangkat persis pukul 08.30. Rencana liburan kami kali ini adalah ke ke rumahnya, di Lombok.
            Aku mengenal Ayu sejak kami sama-sama kuliah di Malang. Lama sudah kami tidak bertemu sejak event pertemuan komunitas backpacker di kota ini. Awalnya dia kuanggap teman biasa. Lalu kami berpisah dan setahun sibuk melewati kehidupan masing-masing. Betapa kagetnya aku saat kami kembali dipertemukan di kampus yang sama, saat kami melanjutkan kuliah di program pascasarjana di Universitas Negeri Malang.
            “Eh kamu apa kabar? Yaelaaah setahun ngga ketemu makin cantik aja!” sapaku waktu itu. Saat kami pertama bertemu dalam program penerimaan mahasiswa baru.
            “Cieeeh pengembara ngambil S2 juga di sini?” ledeknya.
            “Hahaha biar pengembara, tapi pendidikan tetep nomor satu lah..” jawabku sambil menepuk-nepuk dada. Lalu kami tertawa.
            Sejak saat itu kami sering bersama. Entah itu untuk mengerjakan tugas kuliah, atau sekedar pergi jalan-jalan dan makan bersama. Ayu adalah sahabatku yang baik. Meskipun kadang bawel dan suka telat, tapi dia adalah sahabat yang paling seru yang pernah kutemukan. Apalagi soal traveling, kita berdua selalu jadi tim paling kompak saat merencanakan trip serunya.
            Biasanya, kami memakai jasa Tiket.com saat mau berangkat traveling. Proses pembelian tiketnya sangat mudah, praktis dan cepat. Tidak perlu ribet dan pakai antri. Untuk dua orang yang sama-sama sering berpergian sepertiku dan Ayu, sistem pembelian tiket online dari Tiket.com adalah yang paling tepat.
            Pernah saat itu kami baru pulang dari gunung Bromo, Ayu mengajakku. “Vi, ke Jogja yuk! Jalan-jalan ke Malioboro”, saat aku mengatakan “iya”, dia langsung klik cek tiket kereta ataupun pesawat lewat smartphone-nya. Begitu tiket sudah dipesan, kami bisa langsung packing.
            Bagi kami, liburan itu harus dirayakan. Aku bersyukur bahwa kami bukan tipe perempuan yang suka belanja sepatu atau baju setiap bulannya, kami lebih suka menyisihkan uang jajan ataupun uang hasil kerja part-time kami untuk menikmati traveling bersama. Indonesia itu indah guys, jangan diam di rumah saja.
            Sahabat itu adalah teman yang selalu bisa diandalkan. Saat aku sakit, Ayu yang mengantarku ke dokter. Saat aku bingung mencari kado untuk adikku, Ayu pula yang menemaniku berbelanja. Saat ulang tahun, kami merayakannya bersama.  Itulah arti persahabatan. Suka duka selalu kami bagi. Meskipun ada kalanya kami jarang berkomunikasi, tetapi saat bertemu kami selalu memiliki obrolan seru luar biasa.
            Aku masih ingat saat kami mendaki gunung Semeru. Perjalanan kami tidak mudah, apalagi dengan jalur pendakian yang dipenuhi pasir dan batu. Dua langkah ke atas, maka akan merosot tiga langkah ke bawah. Saat itu Ayu yang terus menyemangatiku. Secara fisik dia memang lebih kuat. Dia terus memberi semangat hingga akhirnya kami bisa sampai ke puncak Mahameru yang megah bersama-sama. Sungguh hari itu adalah perayaan persahabatan kami yang paling istimewa. Ayu adalah sahabatku yang tak terlupakan.
            “Viaaaa!!” suara Ayu membuyarkan lamunanku.
            “Kamu sudah lama di sini? Maaf tadi jalanan macet” katanya.
             “Gapapa, belom lama juga kok”, jawabku pendek.
            “Ya ampuun Vi! Tuh liat bajumu berantakan. Kamu deh, kebiasaan…” katanya.
            Aku sudah siap kebal telinga mendengar omelan-omelannya. Dasar Ayu, gadis bawel yang suka mengomel. Tapi aku yakin betul itu karena sifat perhatiannya. Tak apalah, aku sudah sangat terbiasa.
            Aku beranjak lalu menaiki bus yang akan membawa kami ke Surabaya. Dari sana kami akan ke Bandara Juanda, lalu terbang ke Lombok dengan bersuka-cita. Ayu mengikuti langkah kakiku. Dia masih menggerutu protes dengan kondisi bajuku. “Kamu ini perempuan apa sih, masa’ iya pergi jauh pakai celana jeans robek-robek begini” katanya yang hanya kubalas dengan tawa.
            Singkat cerita, kami sudah sampai di Bandara Internasional Lombok (BIL). Di sana kakak Ayu yang bernama Kak Ziza sudah menunggu kami. “Halo kak, apakabar?” sapaku pada Kak Ziza.  Kami sudah pernah bertemu sebelumnya saat liburan di Bali. Kak Ziza pula yang mengantar kami jalan-jalan.
            Lima hari liburan di Lombok, aku dan Ayu memanfaatkan waktu kami sebaik-baiknya. Ada tagline seru yang diciptakan beberapa mahasiswa dan komunitas film di sini. “ Jangan ke Lombok, nanti ga mau pulang!”. Tagline itu memang benar adanya. Rasa-rasanya aku masih ingin menetap di sini. Indahnya Lombok membuatku jatuh cinta.
            Mulai dari bukit-bukit hijau di sekitar Pantai Malimbu, lalu Pantai Pink dengan pasirnya yang cerah. Kami juga snorkeling di Gili Trawangan yang dengan ikan-ikan laut dan terumbu karangnya yang keren.  Tak hanya itu, kami juga berkunjung ke Sembalun Lombok Timur yang tak terlupakan, Pantai Mawun, Gili Kondo, Pantai Sekotong Lombok Barat, dan juga Taman Narmada. Lombok punya banyak tempat wisata yang indahnyaaaa hmmmm… tiada terkira.
            Kala itu Ayu mengajakku berkunjung ke Pantai Senggigi. Kami duduk di atas pasir yang teduh dengan pohon kelapa di sekeliling kami. Senja mulai turun. Indah sekali melihat sunset yang warnanya kuning bulat turun ke atas laut tenang. Membawa kami pada pikiran masing-masing. “Vi.. kalau habis ini kita lulus, kita gimana ya.. Aku pulang ke Lombok dan kamu di sana. Kita tetep keep contact ya..” kata Ayu setelah kami diam beberapa lama. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
            “Sudah pasti lah.. yang penting tetep komunikasi” kataku.
            “Eh Vi, sebelum lulusan, kita pergi ke Belitung yuk!” ajak Ayu.
            “Kamu serius?” Aku menatap matanya. Tampak binar-binar keseriusan yang terpancar di sana.
            “Jogja udah, Semeru udah. Bromo udah, Bali udah, Lombok juga udah, kenapa kita gak pergi ke Belitung?”
            “Emang kita mau berangkat kapan? Budget nya lumayan loh” kataku sambil meraih tangannya yang sudah siap-siap cari tiket online di Tiket.com.
            “Kita nabung lah… serius deh aku pengen ke sana. Kamu pernah lihat film Laskar Pelangi kan? Bagus banget loh itu tempatnya.. Please, bulan depan ke sana yuk?” rajuknya.
            “Oke, tapi ga’ janji ya” kataku.
            “Ini kan traveling kita yang terakhir Vi. Habis ini kita udah lulus dan mungkin udah ga bisa bareng-bareng lagi. Kita harus bikin moment terakhir yang unforgettable” kata Ayu.
Kulihat kini air matanya mulai tak tertahankan.
            “Vi, kamu sahabatku yang paling baik. Thanks yah udah baik banget sama aku selama ini. Sakit bareng, seneng bareng, traveling bareng, naik gunung bareng, selfie bareng, rasanya berat Vi kalo udah mau pisahan gini..”
            “Iya iya…” kataku lagi. “Sudah jangan nangis..” lalu aku memeluknya.
            Dalam hati aku ingin menangis juga. Berat memang harus berpisah dengan sahabatku yang satu ini. Entah dengan siapa lagi nantinya aku bisa berpergian kalau Ayu sudah tidak ada.
            Kita pasti ke Belitung, Yu. Hari ini kubuat cerita tentang kita. Doakan cerita kita dibaca oleh banyak orang dan kita bisa pergi ke Belitung bersama. Dan kamu, Ayu sahabatku, jangan menangis lagi. Meskipun nanti jarak memisahkan kita, aku yakin kita masih bisa tetap bersama.

           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar