Rabu, 11 Januari 2017

Mentari untuk Ragil

                                
  
                Tak ada yang salah dengan menyebut nama Tuhan. Begitu mungkin kalimat yang dapat kupakai untuk mengawali tulisan ini. Tulisan yang hanya berasal dari pemikiranku, dari sebuah percakapan sederhana antara aku dengan seorang temanku yang adalah guru Agama. Sungguh wajar bila manusia menyebut nama Tuhan, terlebih bila mereka sedang terkena masalah, musibah, atau bahkan mereka sedang kesakitan. “OhTuhaaaan… tolong angkat semua penyakitku” begitu mungkin kalimat yang tanpa sadar sering kali kita ucapkan, bila mengalami sakit maupun luka yang parah.
****
                Orang bilang, hidup sebagai anak bungsu itu menyenangkan. Segala keinginan pasti terpenuhi. Bisa minta macam-macam. Intinya, jadi anak bungsu itu enak karena paling dimanjakan orang tua. Tapi berbeda denganku. Namaku Ragil. Sesuai dengan namaku, aku terakhir dilahirkan di tengah-tengah keluarga ini. Selisih usiaku jauh berbeda dengan kakak-kakakku, saat aku masih usia remaja, mereka sudah menikah. Kakakku yang pertama, Dumaji namanya. Dia menikah dengan gadis keturunan Arab, lalu tinggal di Sumatra. Sudah lama ia tak berkomunikasi lagi dengan keluarga ini. Berbeda dengan kakakku yang ke-dua, Fatimah, dia berkarir dan menikah dengan orang Kalimantan. Masih sering kirim surat dan uang untuk orang tuaku, tapi tidak banyak jumlahnya. Kakakku yang ke-tiga, Kusmanto, bercerai dengan istrinya lalu masuk penjara. Awalnya dia merantau ke Jakarta, ingin mengadu nasib katanya. Tapi entah apa yang dilakukannya, kata orang mencuri di toko emas, lalu sekarang bui menjadi rumahnya. Hatiku sedih. Semakin hari bapak ibuku makin tua. Aku ingin membuat mereka tersenyum walau sesekali saja.
                Pada suatu sore, matahari kuning hendak tenggelam di balik bukit yang dapat kulihat dari kampungku. Aku duduk dengan Sundari, kawanku yang adalah seorang guru Agama. Sundari menatap matahari itu. Kulihat senyum tipis menyungging di wajahnya. Entah apa yang sedang dipikirkan Sundari, barangkali ia sedang sibuk berlayar dengan lamunannya tentang Mas Solikin, orang yang berjanji akan menikahinya. Mas Solikin saat ini sedang merantau ke Taiwan, jadi TKI. Dia berjanji tahun depan akan pulang, dengan uang yang banyak lalu menikahi Sundari. Dengan setia temanku ini selalu menantikannya. “Kamu lagi ngelamunin Masmu?” tanyaku pada Sundari. Sundari menggeleng, lalu mengambil nafas panjang, bibirnya masih tersenyum. “Aku ndak ngelamunin Mas Solikin.. aku lagi mikirin hidup, Gil…” katanya lirih. Aku mengerutkan dahi, mengalihkan pandangan matahari yang mulai jingga. “Apa lagi ini? Kamu mau menasehati aku lagi soal hidup? Mentang-mentang guru agama…” kataku sambil terkekeh. Sundari juga ikut terkekeh. “Yaweslah, pulang yuk!” katanya sambil berdiri. Aku ikut berdiri, mengibaskan bagian belakang celanaku yang kotor terkena debu tanah. Lalu beranjak menuju sepeda kami yang terparkir di bawah pohon.
                Sundari adalah kawan baikku di kampung ini. Aku mengenalnya sejak SD. Persahabatan kami terjalin istimewa, dari dulu sampai sekarang. Usia persahabatan kami sama persis dengan sepeda tua yang sedang kukayuh ini, sama persis kala itu pertama kali aku memboncengnya. Saat itu kami sama-sama terlambat masuk sekolah. Semalaman kami asyik dengan tontonan wayang di balai desa. Akibatnya, kami bangun terlambat. Pagi itu aku ada ide meminjam sepeda bapak, supaya sampai ke sekolah lebih cepat. Saat dalam perjalanan, kulihat Sundari berlarian, aku menawarkan tumpangan kepadanya. Sejak itulah kami akrab berteman. Dan sejak itu pula aku selalu memakai sepeda tua milik Bapak.
                Sundari seorang yang kalem. Maklum, dia guru agama. Meski sama-sama perempuan, diam-diam aku selalu mengaguminya. Apalagi pengetahuannya tentang agama, wah sungguh luar biasa. Sebetulnya, di antara kami ini ada banyak persamaan. Kami sama-sama kerja di sekolah, sama-sama cinta pendidikan. Sundari seorang guru, dan aku tukang bersih-bersih. Memang, lagi-lagi pendidikan lah yang membuat kami menjalani karir yang berbeda. Sundari punya keluarga yang selalu mendukungnya untuk belajar dan mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Cita-citanya menjadi guru, akhirnya Pak Jaluadi seorang kepala sekolah di kampungku menawarkan dia menjadi guru agama. Tak hanya itu, dia mendapat bantuan beasiswa dari pemerintah daerah, untuk melanjutkan pendidikan sarjana PGSD di salah satu universitas negeri di kota. Berbeda denganku, jangankan sekolah, untuk beli seragam dan buku saja keluargaku tak mampu. Jadilah sekarang aku di sini, setiap pagi menyapu halaman dan membersihkan sekolah menjadi pekerjaan sehari-hariku.
                Sesekali aku melihat anak-anak SD di sekolah itu sedang belajar bersama Sundari di kelasnya. Diam-diam aku mengintip di balik jendela. Ikut mengikuti pelajaran. Tapi kalau Sundari melihatku, maka cepat-cepat aku mengalihkan pandang, pura-pura sibuk menyapu atau menyelesaikan pekerjaan.


Bersambung……………………

Rabu, 13 Mei 2015

SENGGIGI, JANGAN MENANGIS LAGI

(Sebuah cerita yang pernah dimuat untuk ajang lomba di Tiket.com)

SUNSET DI SENGGIGI, JANGAN MENANGIS LAGI

            Aku memandangi jam di tanganku. Ini sudah ketiga kalinya aku melihat jarumnya yang terus bergerak, dan kini menunjukkan pukul 08.00 tepat. Namun belum juga kulihat kedatangan Ayu, sahabatku. Sesekali aku menengok pula pada layar ponsel di tangan kananku, tak ada tanda-tanda telepon maupun SMS. Gerimis pagi menambah hawa dingin yang menembus jaket tebalku. Kumasukkan kedua tanganku dalam saku jaket, seraya menoleh ke kanan dan kiri. Hanya ada lalu lalang pengunjung terminal dengan tas ransel dan koper masing-masing.
            Kemarin kami sudah sepakat bertemu di bangku ini. Sebuah bangku panjang di depan Terminal Arjosari di kota Malang. Janji pukul 08.00 tepat sudah berada di sini, sebab bus kami akan berangkat persis pukul 08.30. Rencana liburan kami kali ini adalah ke ke rumahnya, di Lombok.
            Aku mengenal Ayu sejak kami sama-sama kuliah di Malang. Lama sudah kami tidak bertemu sejak event pertemuan komunitas backpacker di kota ini. Awalnya dia kuanggap teman biasa. Lalu kami berpisah dan setahun sibuk melewati kehidupan masing-masing. Betapa kagetnya aku saat kami kembali dipertemukan di kampus yang sama, saat kami melanjutkan kuliah di program pascasarjana di Universitas Negeri Malang.
            “Eh kamu apa kabar? Yaelaaah setahun ngga ketemu makin cantik aja!” sapaku waktu itu. Saat kami pertama bertemu dalam program penerimaan mahasiswa baru.
            “Cieeeh pengembara ngambil S2 juga di sini?” ledeknya.
            “Hahaha biar pengembara, tapi pendidikan tetep nomor satu lah..” jawabku sambil menepuk-nepuk dada. Lalu kami tertawa.
            Sejak saat itu kami sering bersama. Entah itu untuk mengerjakan tugas kuliah, atau sekedar pergi jalan-jalan dan makan bersama. Ayu adalah sahabatku yang baik. Meskipun kadang bawel dan suka telat, tapi dia adalah sahabat yang paling seru yang pernah kutemukan. Apalagi soal traveling, kita berdua selalu jadi tim paling kompak saat merencanakan trip serunya.
            Biasanya, kami memakai jasa Tiket.com saat mau berangkat traveling. Proses pembelian tiketnya sangat mudah, praktis dan cepat. Tidak perlu ribet dan pakai antri. Untuk dua orang yang sama-sama sering berpergian sepertiku dan Ayu, sistem pembelian tiket online dari Tiket.com adalah yang paling tepat.
            Pernah saat itu kami baru pulang dari gunung Bromo, Ayu mengajakku. “Vi, ke Jogja yuk! Jalan-jalan ke Malioboro”, saat aku mengatakan “iya”, dia langsung klik cek tiket kereta ataupun pesawat lewat smartphone-nya. Begitu tiket sudah dipesan, kami bisa langsung packing.
            Bagi kami, liburan itu harus dirayakan. Aku bersyukur bahwa kami bukan tipe perempuan yang suka belanja sepatu atau baju setiap bulannya, kami lebih suka menyisihkan uang jajan ataupun uang hasil kerja part-time kami untuk menikmati traveling bersama. Indonesia itu indah guys, jangan diam di rumah saja.
            Sahabat itu adalah teman yang selalu bisa diandalkan. Saat aku sakit, Ayu yang mengantarku ke dokter. Saat aku bingung mencari kado untuk adikku, Ayu pula yang menemaniku berbelanja. Saat ulang tahun, kami merayakannya bersama.  Itulah arti persahabatan. Suka duka selalu kami bagi. Meskipun ada kalanya kami jarang berkomunikasi, tetapi saat bertemu kami selalu memiliki obrolan seru luar biasa.
            Aku masih ingat saat kami mendaki gunung Semeru. Perjalanan kami tidak mudah, apalagi dengan jalur pendakian yang dipenuhi pasir dan batu. Dua langkah ke atas, maka akan merosot tiga langkah ke bawah. Saat itu Ayu yang terus menyemangatiku. Secara fisik dia memang lebih kuat. Dia terus memberi semangat hingga akhirnya kami bisa sampai ke puncak Mahameru yang megah bersama-sama. Sungguh hari itu adalah perayaan persahabatan kami yang paling istimewa. Ayu adalah sahabatku yang tak terlupakan.
            “Viaaaa!!” suara Ayu membuyarkan lamunanku.
            “Kamu sudah lama di sini? Maaf tadi jalanan macet” katanya.
             “Gapapa, belom lama juga kok”, jawabku pendek.
            “Ya ampuun Vi! Tuh liat bajumu berantakan. Kamu deh, kebiasaan…” katanya.
            Aku sudah siap kebal telinga mendengar omelan-omelannya. Dasar Ayu, gadis bawel yang suka mengomel. Tapi aku yakin betul itu karena sifat perhatiannya. Tak apalah, aku sudah sangat terbiasa.
            Aku beranjak lalu menaiki bus yang akan membawa kami ke Surabaya. Dari sana kami akan ke Bandara Juanda, lalu terbang ke Lombok dengan bersuka-cita. Ayu mengikuti langkah kakiku. Dia masih menggerutu protes dengan kondisi bajuku. “Kamu ini perempuan apa sih, masa’ iya pergi jauh pakai celana jeans robek-robek begini” katanya yang hanya kubalas dengan tawa.
            Singkat cerita, kami sudah sampai di Bandara Internasional Lombok (BIL). Di sana kakak Ayu yang bernama Kak Ziza sudah menunggu kami. “Halo kak, apakabar?” sapaku pada Kak Ziza.  Kami sudah pernah bertemu sebelumnya saat liburan di Bali. Kak Ziza pula yang mengantar kami jalan-jalan.
            Lima hari liburan di Lombok, aku dan Ayu memanfaatkan waktu kami sebaik-baiknya. Ada tagline seru yang diciptakan beberapa mahasiswa dan komunitas film di sini. “ Jangan ke Lombok, nanti ga mau pulang!”. Tagline itu memang benar adanya. Rasa-rasanya aku masih ingin menetap di sini. Indahnya Lombok membuatku jatuh cinta.
            Mulai dari bukit-bukit hijau di sekitar Pantai Malimbu, lalu Pantai Pink dengan pasirnya yang cerah. Kami juga snorkeling di Gili Trawangan yang dengan ikan-ikan laut dan terumbu karangnya yang keren.  Tak hanya itu, kami juga berkunjung ke Sembalun Lombok Timur yang tak terlupakan, Pantai Mawun, Gili Kondo, Pantai Sekotong Lombok Barat, dan juga Taman Narmada. Lombok punya banyak tempat wisata yang indahnyaaaa hmmmm… tiada terkira.
            Kala itu Ayu mengajakku berkunjung ke Pantai Senggigi. Kami duduk di atas pasir yang teduh dengan pohon kelapa di sekeliling kami. Senja mulai turun. Indah sekali melihat sunset yang warnanya kuning bulat turun ke atas laut tenang. Membawa kami pada pikiran masing-masing. “Vi.. kalau habis ini kita lulus, kita gimana ya.. Aku pulang ke Lombok dan kamu di sana. Kita tetep keep contact ya..” kata Ayu setelah kami diam beberapa lama. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
            “Sudah pasti lah.. yang penting tetep komunikasi” kataku.
            “Eh Vi, sebelum lulusan, kita pergi ke Belitung yuk!” ajak Ayu.
            “Kamu serius?” Aku menatap matanya. Tampak binar-binar keseriusan yang terpancar di sana.
            “Jogja udah, Semeru udah. Bromo udah, Bali udah, Lombok juga udah, kenapa kita gak pergi ke Belitung?”
            “Emang kita mau berangkat kapan? Budget nya lumayan loh” kataku sambil meraih tangannya yang sudah siap-siap cari tiket online di Tiket.com.
            “Kita nabung lah… serius deh aku pengen ke sana. Kamu pernah lihat film Laskar Pelangi kan? Bagus banget loh itu tempatnya.. Please, bulan depan ke sana yuk?” rajuknya.
            “Oke, tapi ga’ janji ya” kataku.
            “Ini kan traveling kita yang terakhir Vi. Habis ini kita udah lulus dan mungkin udah ga bisa bareng-bareng lagi. Kita harus bikin moment terakhir yang unforgettable” kata Ayu.
Kulihat kini air matanya mulai tak tertahankan.
            “Vi, kamu sahabatku yang paling baik. Thanks yah udah baik banget sama aku selama ini. Sakit bareng, seneng bareng, traveling bareng, naik gunung bareng, selfie bareng, rasanya berat Vi kalo udah mau pisahan gini..”
            “Iya iya…” kataku lagi. “Sudah jangan nangis..” lalu aku memeluknya.
            Dalam hati aku ingin menangis juga. Berat memang harus berpisah dengan sahabatku yang satu ini. Entah dengan siapa lagi nantinya aku bisa berpergian kalau Ayu sudah tidak ada.
            Kita pasti ke Belitung, Yu. Hari ini kubuat cerita tentang kita. Doakan cerita kita dibaca oleh banyak orang dan kita bisa pergi ke Belitung bersama. Dan kamu, Ayu sahabatku, jangan menangis lagi. Meskipun nanti jarak memisahkan kita, aku yakin kita masih bisa tetap bersama.