SUNSET DI SENGGIGI, JANGAN MENANGIS
LAGI
Aku memandangi jam di tanganku. Ini sudah ketiga kalinya
aku melihat jarumnya yang terus bergerak, dan kini menunjukkan pukul 08.00
tepat. Namun belum juga kulihat kedatangan Ayu, sahabatku. Sesekali aku
menengok pula pada layar ponsel di tangan kananku, tak ada tanda-tanda telepon
maupun SMS. Gerimis pagi menambah hawa dingin yang menembus jaket tebalku.
Kumasukkan kedua tanganku dalam saku jaket, seraya menoleh ke kanan dan kiri.
Hanya ada lalu lalang pengunjung terminal dengan tas ransel dan koper
masing-masing.
Kemarin kami sudah sepakat bertemu di bangku ini. Sebuah
bangku panjang di depan Terminal Arjosari di kota Malang. Janji pukul 08.00 tepat
sudah berada di sini, sebab bus kami akan berangkat persis pukul 08.30. Rencana
liburan kami kali ini adalah ke ke rumahnya, di Lombok.
Aku mengenal Ayu sejak kami sama-sama kuliah di Malang.
Lama sudah kami tidak bertemu sejak event pertemuan komunitas backpacker di kota ini. Awalnya dia
kuanggap teman biasa. Lalu kami berpisah dan setahun sibuk melewati kehidupan
masing-masing. Betapa kagetnya aku saat kami kembali dipertemukan di kampus
yang sama, saat kami melanjutkan kuliah di program pascasarjana di Universitas
Negeri Malang.
“Eh kamu apa kabar? Yaelaaah setahun ngga ketemu makin
cantik aja!” sapaku waktu itu. Saat kami pertama bertemu dalam program
penerimaan mahasiswa baru.
“Cieeeh pengembara ngambil S2 juga di sini?” ledeknya.
“Hahaha biar pengembara, tapi pendidikan tetep nomor satu
lah..” jawabku sambil menepuk-nepuk dada. Lalu kami tertawa.
Sejak saat itu kami sering bersama. Entah itu untuk
mengerjakan tugas kuliah, atau sekedar pergi jalan-jalan dan makan bersama. Ayu
adalah sahabatku yang baik. Meskipun kadang bawel dan suka telat, tapi dia
adalah sahabat yang paling seru yang pernah kutemukan. Apalagi soal traveling,
kita berdua selalu jadi tim paling kompak saat merencanakan trip serunya.
Biasanya, kami memakai jasa Tiket.com saat mau berangkat
traveling. Proses pembelian tiketnya sangat mudah, praktis dan cepat. Tidak
perlu ribet dan pakai antri. Untuk dua orang yang sama-sama sering berpergian
sepertiku dan Ayu, sistem pembelian tiket online dari Tiket.com adalah yang
paling tepat.
Pernah saat itu kami baru pulang dari gunung Bromo, Ayu
mengajakku. “Vi, ke Jogja yuk! Jalan-jalan ke Malioboro”, saat aku mengatakan
“iya”, dia langsung klik cek tiket kereta ataupun pesawat lewat smartphone-nya. Begitu tiket sudah
dipesan, kami bisa langsung packing.
Bagi kami, liburan itu harus dirayakan. Aku bersyukur
bahwa kami bukan tipe perempuan yang suka belanja sepatu atau baju setiap bulannya,
kami lebih suka menyisihkan uang jajan ataupun uang hasil kerja part-time kami untuk menikmati traveling
bersama. Indonesia itu indah guys,
jangan diam di rumah saja.
Sahabat itu adalah teman yang selalu bisa diandalkan. Saat
aku sakit, Ayu yang mengantarku ke dokter. Saat aku bingung mencari kado untuk
adikku, Ayu pula yang menemaniku berbelanja. Saat ulang tahun, kami
merayakannya bersama. Itulah arti
persahabatan. Suka duka selalu kami bagi. Meskipun ada kalanya kami jarang
berkomunikasi, tetapi saat bertemu kami selalu memiliki obrolan seru luar
biasa.
Aku masih ingat saat kami mendaki gunung Semeru.
Perjalanan kami tidak mudah, apalagi dengan jalur pendakian yang dipenuhi pasir
dan batu. Dua langkah ke atas, maka akan merosot tiga langkah ke bawah. Saat
itu Ayu yang terus menyemangatiku. Secara fisik dia memang lebih kuat. Dia
terus memberi semangat hingga akhirnya kami bisa sampai ke puncak Mahameru yang
megah bersama-sama. Sungguh hari itu adalah perayaan persahabatan kami yang
paling istimewa. Ayu adalah sahabatku yang tak terlupakan.
“Viaaaa!!” suara Ayu membuyarkan lamunanku.
“Kamu sudah lama di sini? Maaf tadi jalanan macet”
katanya.
“Gapapa, belom
lama juga kok”, jawabku pendek.
“Ya ampuun Vi! Tuh liat bajumu berantakan. Kamu deh,
kebiasaan…” katanya.
Aku sudah siap kebal telinga mendengar omelan-omelannya.
Dasar Ayu, gadis bawel yang suka mengomel. Tapi aku yakin betul itu karena
sifat perhatiannya. Tak apalah, aku sudah sangat terbiasa.
Aku beranjak lalu menaiki bus yang akan membawa kami ke
Surabaya. Dari sana kami akan ke Bandara Juanda, lalu terbang ke Lombok dengan
bersuka-cita. Ayu mengikuti langkah kakiku. Dia masih menggerutu protes dengan
kondisi bajuku. “Kamu ini perempuan apa sih, masa’ iya pergi jauh pakai celana
jeans robek-robek begini” katanya yang hanya kubalas dengan tawa.
Singkat cerita, kami sudah sampai di Bandara
Internasional Lombok (BIL). Di sana kakak Ayu yang bernama Kak Ziza sudah
menunggu kami. “Halo kak, apakabar?” sapaku pada Kak Ziza. Kami sudah pernah bertemu sebelumnya saat
liburan di Bali. Kak Ziza pula yang mengantar kami jalan-jalan.
Lima hari liburan di Lombok, aku dan Ayu memanfaatkan
waktu kami sebaik-baiknya. Ada tagline seru yang diciptakan beberapa mahasiswa
dan komunitas film di sini. “ Jangan ke Lombok, nanti ga mau pulang!”. Tagline
itu memang benar adanya. Rasa-rasanya aku masih ingin menetap di sini. Indahnya
Lombok membuatku jatuh cinta.
Mulai dari bukit-bukit hijau di sekitar Pantai Malimbu,
lalu Pantai Pink dengan pasirnya yang cerah. Kami juga snorkeling di Gili
Trawangan yang dengan ikan-ikan laut dan terumbu karangnya yang keren. Tak hanya itu, kami juga berkunjung ke
Sembalun Lombok Timur yang tak terlupakan, Pantai Mawun, Gili Kondo, Pantai
Sekotong Lombok Barat, dan juga Taman Narmada. Lombok punya banyak tempat
wisata yang indahnyaaaa hmmmm… tiada terkira.
Kala itu Ayu mengajakku berkunjung ke Pantai Senggigi.
Kami duduk di atas pasir yang teduh dengan pohon kelapa di sekeliling kami.
Senja mulai turun. Indah sekali melihat sunset yang warnanya kuning bulat turun
ke atas laut tenang. Membawa kami pada pikiran masing-masing. “Vi.. kalau habis
ini kita lulus, kita gimana ya.. Aku pulang ke Lombok dan kamu di sana. Kita
tetep keep contact ya..” kata Ayu
setelah kami diam beberapa lama. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya
perlahan.
“Sudah pasti lah.. yang penting tetep komunikasi” kataku.
“Eh Vi, sebelum lulusan, kita pergi ke Belitung yuk!”
ajak Ayu.
“Kamu serius?” Aku menatap matanya. Tampak binar-binar
keseriusan yang terpancar di sana.
“Jogja udah, Semeru udah. Bromo udah, Bali udah, Lombok
juga udah, kenapa kita gak pergi ke Belitung?”
“Emang kita mau berangkat kapan? Budget nya lumayan loh”
kataku sambil meraih tangannya yang sudah siap-siap cari tiket online di
Tiket.com.
“Kita nabung lah… serius deh aku pengen ke sana. Kamu
pernah lihat film Laskar Pelangi kan? Bagus banget loh itu tempatnya.. Please,
bulan depan ke sana yuk?” rajuknya.
“Oke, tapi ga’ janji ya” kataku.
“Ini kan traveling kita yang terakhir Vi. Habis ini kita
udah lulus dan mungkin udah ga bisa bareng-bareng lagi. Kita harus bikin moment
terakhir yang unforgettable” kata
Ayu.
Kulihat kini air matanya
mulai tak tertahankan.
“Vi, kamu sahabatku yang paling baik. Thanks yah udah baik banget sama aku
selama ini. Sakit bareng, seneng bareng, traveling bareng, naik gunung bareng,
selfie bareng, rasanya berat Vi kalo udah mau pisahan gini..”
“Iya iya…” kataku lagi. “Sudah jangan nangis..” lalu aku
memeluknya.
Dalam hati aku ingin menangis juga. Berat memang harus
berpisah dengan sahabatku yang satu ini. Entah dengan siapa lagi nantinya aku
bisa berpergian kalau Ayu sudah tidak ada.
Kita pasti ke Belitung, Yu. Hari ini kubuat cerita
tentang kita. Doakan cerita kita dibaca oleh banyak orang dan kita bisa pergi
ke Belitung bersama. Dan kamu, Ayu sahabatku, jangan menangis lagi. Meskipun
nanti jarak memisahkan kita, aku yakin kita masih bisa tetap bersama.